Uncategorized

Sejarah Sphinx Mesir dan Kisah di Balik Wajahnya

sejarah-sphinx-mesir-dan-kisah-di-balik-wajahnya

Sejarah Sphinx Mesir dan Kisah di Balik Wajahnya. Sphinx Besar Giza tetap menjadi salah satu monumen paling misterius di dunia pada akhir 2025, dengan sejarah panjang yang terus memicu perdebatan. Patung raksasa berbadan singa dan berkepala manusia ini, dipahat dari batu kapur tunggal, diyakini dibangun sekitar 2500 SM sebagai penjaga kompleks piramida Giza. Wajahnya yang tenang tapi rusak—terutama hidung yang hilang—menjadi fokus utama spekulasi, dari identitas firaun yang digambarkan hingga kemungkinan rahasia tersembunyi di baliknya. Meski arkeologi mainstream menghubungkannya dengan Firaun Khafre, teori alternatif tentang usia lebih tua dan makna simbolis terus muncul, membuat sphinx ini simbol abadi keajaiban Mesir Kuno. REVIEW FILM

Sejarah Pembangunan dan Identitas Wajah: Sejarah Sphinx Mesir dan Kisah di Balik Wajahnya

Sebagian besar ahli sepakat sphinx dibangun pada masa Dinasti Keempat, sekitar 2558-2532 SM, oleh Firaun Khafre—pembangun piramida kedua di Giza. Bukti utama adalah kemiripan wajah sphinx dengan patung Khafre yang ditemukan di kuil terdekat, serta posisi sphinx yang selaras dengan causeway dan valley temple miliknya. Patung ini dipahat langsung dari bedrock plateau Giza, dengan batu sisa digunakan untuk membangun kuil sphinx. Wajah manusia mewakili firaun sebagai manifestasi dewa matahari, mengenakan nemes headdress kerajaan dan uraeus cobra di dahi.

Namun, teori alternatif muncul karena proporsi kepala yang kecil dibanding tubuh—beberapa ahli menduga kepala asli berbentuk singa atau Anubis, kemudian diukir ulang menjadi wajah manusia pada masa Khafre. Ada pula usulan bahwa wajah lebih mirip Khufu, ayah Khafre, atau bahkan Djedefre, saudaranya. Bukti seperti pola erosi air pada tubuh sphinx menunjukkan kemungkinan usia lebih tua, saat iklim Giza masih basah ribuan tahun sebelum dinasti.

Kerusakan Hidung dan Kisah Ikonoklasme: Sejarah Sphinx Mesir dan Kisah di Balik Wajahnya

Hidung sphinx yang hilang sering jadi bahan mitos, seperti ditembak tentara Napoleon pada 1798—padahal gambar dari abad ke-18 sudah menunjukkan hidung hilang. Sejarawan Arab abad ke-15, al-Maqrīzī, mencatat bahwa pada 1378, seorang Sufi fanatik bernama Muhammad Sa’im al-Dahr merusak hidung dengan pahat karena marah melihat petani lokal memuja sphinx untuk panen baik, menganggapnya penyembahan berhala. Tindakan ini dianggap ikonoklasme, dan al-Dahr dieksekusi.

Kerusakan lain termasuk jenggot ritual yang jatuh dan kini disimpan di museum, serta erosi alami pada wajah. Sisa cat merah di telinga menunjukkan sphinx pernah dicat cerah. Kisah ini menggambarkan konflik antara tradisi kuno dan agama baru, membuat wajah sphinx jadi saksi perubahan budaya selama ribuan tahun.

Penemuan Terkini dan Misteri Bawah Tanah

Penelitian terbaru dengan radar penetrasi tanah mendeteksi rongga dan shaft vertikal di bawah sphinx, termasuk kemungkinan ruang besar hingga kedalaman ribuan kaki. Beberapa ahli menduga ini bagian dari jaringan bawah tanah luas, mungkin hall of records legendaris atau kota tersembunyi. Temuan ini memicu spekulasi tentang fungsi sphinx sebagai penjaga rahasia pengetahuan kuno.

Erosi pada tubuh juga terus diperdebatkan—pola vertikal menunjukkan paparan hujan deras, yang hanya ada sebelum 5000-7000 SM, mendukung teori usia lebih tua. Namun, ahli mainstream menjelaskan sebagai erosi angin dan garam setelah pembangunan. Penemuan ini membuat sphinx semakin menarik, dengan penggalian terbatas karena risiko struktural.

Kesimpulan

Sejarah Sphinx Besar Giza penuh lapisan misteri, dari identitas wajah Khafre hingga kisah kerusakan hidung akibat fanatisme dan penemuan bawah tanah terkini. Meski bukti kuat menghubungkannya dengan era Khafre, teori alternatif tentang usia lebih tua dan rahasia tersembunyi terus hidup, membuat monumen ini abadi sebagai simbol keajaiban Mesir. Di akhir 2025, sphinx tetap mengundang rasa kagum dan pertanyaan, mengingatkan bahwa banyak rahasia peradaban kuno masih menunggu terungkap. Kunjungan ke Giza selalu meninggalkan kesan mendalam, sebagai pengingat betapa kecilnya pengetahuan manusia dibanding warisan ribuan tahun lalu.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *